RPX mencapai salah satu tonggak terobosan layanan dengan meresmikan Air Freight Export Consolidation Service di Semarang, Jawa Tengah pada 12 Januari 2016. Layanan ini menjadi yang pertama kali dihadirkan kepada pelanggan khusus inovasi di bisnis ekspor.

Air Freight Export Consolidation Service merupakan kemitraan strategis antara PT Wahana Dirgantara (WDI) sebagai operator layanan pergudangan RPX dan Japan Airlines (JAL) Cargo, salah satu maskapai penerbangan terbesar di Asia. Fokus utama Air Freight Export Consolidation Service memberikan nilai tambah layanan untuk eksportir di Semarang dan sekitarnya. Hal ini ditujukan untuk industri di Jawa Tengah, khususnya Semarang guna mempermudah proses ekspor mereka.

Dalam operasional, WDI akan mengkonsolidasikan semua kargo dari Semarang dan sekitarnya. WDI melaksanakan proses kepabeanan untuk kargo yang akan diekspor sebelum diberangkatkan ke Jakarta melalui udara atau darat (truk atau kereta api). Setelah tiba di Jakarta, kargo hanya menjalani proses melalui Bea Cukai dengan pemeriksaan segel sebelum kargo diangkut ke penerbangan Japan Airlines.

Sesuai rekam jejak bisnis, WDI dikenal sebagai operator pergudangan dengan melayani gudang transit di Jakarta, Surabaya, Balikpapan dan sekarang Semarang. JAL terkenal sebagai salah satu perusahaan penerbangan terbesar dan terbaik dalam penanganan kargo/barang. JAL saat ini mengoperasikan penerbangan reguler langsung (non-stop) dari Indonesia ke Jepang serta menghubungkan penerbangan ke tujuan lain di Asia, Amerika Serikat, Kanada dan Eropa.

Beroperasinya Airfreight Export Consolidation Service di Semarang dibuka oleh David Batubara, Chief Executive Officer (CEO) of RPX Group dan Tsuyoshi Yamamura, Executive Officer Cargo & Mail of Japan Airlines Cargo.

Air Freight Export Consolidation Service menjadi layanan baru yang akan menyederhanakan proses ekspor kargo untuk pelaku bisnis ekspor.

David Batubara, Chief Executive Officer (CEO) of RPX Group mengatakan “Permintaan dari pelanggan terhadap layanan RPX sangat tinggi. Airfreight Export Consolidation Service di Semarang merupakan salah satu jawaban RPX dalam menjembatani kebutuhan pengiriman ke luar negeri terutama destinasi Jepang. Pelaku bisnis di Jawa Tengah dan sekitar sehingga tidak perlu repot lagi dalam melakukan pengiriman kargo internasional. Kami optimis, bahwa layanan baru ini akan menguntungkan bagi eksportir.”

Taufick Daniel Mochtar, Senior Vice President of Agency & Ancillary Service of PT Wahana Dirgantara (WDI) – RPX Group menambahkan, “Dalam strategi bisnis, hadirnya Airfreight Export Consolidation Service di Semarang menjadi solusi utama bagi pelanggan dan eksportir, mengingat pertumbuhan pengiriman kargo ke luar negeri terutama Jepang dan negara tetangga tumbuh pesat. Semarang merupakan salah satu pusat perdagangan utama dan memiliki potensi daerah yang terus dikembangkan. Semarang dan sekitarnya dalam memenuhi permintaan layanan seiring meningkatknya potensi ekspor di wilayah ini. Hal tersebut kemudian didukung oleh ekspansi jaringan RPX untuk memberikan kemudahan bagi pelanggan.”

Andik Widyarianto, General Manager of GSA Japan Airlines Cargo Indonesia menyatakan “Dengan adanya layanan ini tentunya lead time, proses handling, irregularity, liability terhadap barang lebih terjamin serta dari sisi biaya lebih efisien. Sehingga harga yang ditawarkan kepada pelanggan semakin kompetitif tanpa harus mengurangi layanan yang diberikan.”

Airfreight Export Consolidation Service di Semarang merupakan gerbang utama ekspor untuk JOGLOSEMAR (Jogja, Solo, Semarang) serta Jawa Tengah dan Yogyakarta pada umumnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Jawa Tengah pada Agustus 2015 mencapai US$445 juta atau meningkat dibandingkan Juli yaitu US$384,24 juta. Perbandingan pada Agustus 2014, nilai ekspor Jateng juga mengalami kenaikan 4,87 persen atau setara dengan US$20,69 juta. Ekspor DIY pada 2014 pada US$127,24 juta, nilai hingga Agustus 2015 mencapai US$147,32 juta.

“Kami sangat optimis, pengiriman kargo internasional akan terus meningkat sejalan perkembangan positif lalu lintas perdagangan antarnegara,” pungkas Taufick.